Hai, kamu yang baru datang di website Edu create, yuk berlangganan disini disini!

Aku dan Keheningan Idul Fitri


 

Dimalam itu, takbir berkumandang setelah shalat ditunaikan. Suara merdu masjid bergema, menyatu dalam harmoni rasa. Dalam bilik kamar yang tersembunyi, kudengar irama itu mengalun. Udara malam berhembus sejuk, menciptakan hening yang dalam. Hanya beberapa langkah yang melintas di lorong, meninggalkan kesunyian. Sedih menyelinap, namun ku usahakan menenangkan diri. Malam itu, terasa kosong, lorong yang biasanya riuh oleh gemuruh motor dan keriuhan kendaraan roda dua, kini terasa sepi seperti padang pasir luas yang sunyi. Aku masih terdiam, bertanya-tanya dalam hati, mencari kepastian bahwa ini bukan ilusi semata. Wajahku dipenuhi kekhawatiran, mataku melirik ke segala penjuru, mencoba mencari jawaban.

"Apakah hanya aku yang tak pulang?" Pertanyaan itu terus menghantui, terus terulang dalam benakku. Ini tahun kedua aku tak merayakan lebaran di rumah, hampa, sepi, dan sedih. Namun, orang selalu bertanya, "kenapa? kenapa dan kenapa?" Mereka tak tahu betapa perasaanku terluka.

Di pagi hari, saat Idul Fitri tiba, aku terbangun dari tidur lelap. Suara takbir terdengar samar-samar, mengalun dalam keheningan. Kuupayakan hatiku tetap tenang, mengusap air mata yang ingin tumpah. Lirik terlintas di pikiranku, "Teruslah jalan, Teruslah berjalan. Kaki Mungilku yang terus menahan beban." Ku amati lorong di depan, hanya beberapa kendaraan terparkir. Rasa hampa kembali menyergap, terasa aneh. Teman-teman kos pulang ke rumah masing-masing, sementara aku terdiam, memandang kekosongan, tak tahu apa yang kupikirkan. Terbersit keinginan untuk tak shalat Ied. Hanya takut dikasihani karena tak pulang. Namun, aku berusaha mengusir pikiran-pikiran konyol itu.

Waktu berlalu dengan cepat setelah shalat Ied. Sekitar pukul 10.00, aku keluar untuk membeli sesuatu. Suasana lebaran masih terasa hening. Jalanan sepi, toko-toko tertutup rapat, hanya beberapa orang yang berlalu-lalang. Namun, ada satu hal yang mencuri perhatianku. Seorang bapak dengan bentornya menunggu penumpang, duduk termenung. Bukan hanya itu, penjual lontar dan bakso masih berkeliling, karyawan retail tetap melayani. Padahal, hari itu adalah hari lebaran. Ternyata, masih ada yang mencari nafkah di tengah keramaian orang-orang berkumpul dengan keluarga mereka. Aku terdiam sejenak, terhanyut dalam pandangan itu. Perasaan campur aduk menyelimut. Sesaat, aku merasakan kesedihan yang mendalam. Bagaimana mungkin, di saat semua orang merayakan kehangatan dan kebersamaan, namun ada saja yang harus berjuang sendiri mencari sesuap nasi. Rinai Air mata hampir mengalir, menggambarkan perasaan yang tak terucapkan. 

Getting Info...

About the Author

Hingga saat ini, Aku memang masih Suka dengan Dunia Komputer, Entah kenapa?. Ya Jawabannya Karena, Hal yang membuatku nyaman justru Adalah Komputer, Aku tak seperti Anak kebiasaan yang menggunakan komputer hanya bermain Game. Tapi, Aku lebih Suka De…

Posting Komentar

Cookie Consent
We serve cookies on this site to analyze traffic, remember your preferences, and optimize your experience.
Oops!
It seems there is something wrong with your internet connection. Please connect to the internet and start browsing again.
AdBlock Detected!
We have detected that you are using adblocking plugin in your browser.
The revenue we earn by the advertisements is used to manage this website, we request you to whitelist our website in your adblocking plugin.
Site is Blocked
Sorry! This site is not available in your country.